5 Kesalahan Besar Ruben Amorim Saat Berada di Man United. Ruben Amorim dipecat oleh Manchester United pada 5 Januari 2026 setelah menjalani masa jabatan selama 14 bulan. Kedatangannya pada November 2024 sempat membawa harapan besar, termasuk mencapai final Europa League, tapi akhirnya berakhir dengan rekor kemenangan rendah dan posisi keenam di klasemen. Pemecatan ini dipicu oleh performa buruk, ketegangan internal, serta kritik terbuka Amorim terhadap hierarki klub pasca-imbang melawan Leeds. Meski ada momen positif, beberapa keputusan dan pendekatan Amorim menjadi sorotan sebagai kesalahan yang mempercepat kepergiannya. MAKNA LAGU
Kesalahan 1-2: Ketidakmampuan Beradaptasi dan Keras Kepala dengan Formasi: 5 Kesalahan Besar Ruben Amorim Saat Berada di Man United
Salah satu kritik terbesar terhadap Amorim adalah ketegasannya mempertahankan formasi 3-4-3 yang menjadi ciri khasnya. Meski sukses di klub sebelumnya, sistem ini tidak cocok dengan skuad United yang sudah terbiasa dengan gaya berbeda. Pemain sering terlihat kebingungan dalam transisi, menyebabkan kesalahan individu berulang dan pertahanan rentan. Amorim menolak saran untuk beralih ke formasi lain, seperti back four, yang dianggap lebih fleksibel. Akibatnya, tim hanya meraih rentetan kemenangan pendek maksimal tiga laga, dan performa di Premier League stagnan. Ketidakmampuan beradaptasi ini membuatnya terlihat kaku, meski awalnya dianggap sebagai prinsip kuat.
Kesalahan 3-4: Konflik Internal dan Kritik Publik terhadap Hierarki: 5 Kesalahan Besar Ruben Amorim Saat Berada di Man United
Amorim sering bentrok dengan manajemen, terutama soal wewenang transfer dan struktur klub yang menjadikannya “head coach” bukan “manager” penuh. Ia secara terbuka mengkritik departemen rekrutmen agar “melakukan tugas mereka” dan menyatakan ingin berperan lebih besar. Pernyataan pasca-laga melawan Leeds, di mana ia menegaskan akan bertahan “18 bulan lagi” sambil menyindir hierarki, menjadi pemicu akhir. Perilaku emosional dan inkonsisten dalam pertemuan dengan petinggi, seperti respons negatif terhadap diskusi taktis, membuat kepercayaan hilang. Klub enggan mendukung target transfernya di Januari, karena khawatir tidak cocok dengan pelatih berikutnya.
Kesalahan 5: Kurangnya Progres dan Manajemen Skuad
Meski menghabiskan dana besar untuk pemain baru, Amorim gagal menciptakan evolusi signifikan di lapangan. Rekor kemenangannya sekitar 38 persen menjadi salah satu yang terburuk sejak era lama, dengan tim sering kebobolan mudah dan kurang konsisten. Ia juga dikritik karena jarang melibatkan akademi, bahkan tidak menonton pertandingan tim muda, serta rotasi yang membingungkan. Hasil buruk seperti imbang dengan tim bawah atau kekalahan memalukan memperburuk situasi, tanpa tanda-tanda perbaikan jangka panjang yang meyakinkan hierarki.
Kesimpulan
Lima kesalahan besar Ruben Amorim—dari ketidakadaptasian formasi, keras kepala taktis, konflik internal, kritik publik, hingga kurangnya progres—membuat masa jabatannya di Manchester United berakhir prematur. Meski membawa tim ke final Eropa dan menunjukkan karisma, kombinasi ini terbukti fatal di tengah tekanan tinggi klub. Pemecatan ini menandai pola berulang United dalam mencari stabilitas, dengan Darren Fletcher sementara mengambil alih. Bagi Amorim, ini menjadi pelajaran berharga; bagi klub, saatnya merefleksikan struktur untuk menghindari kegagalan serupa di masa depan.

