AC Milan Jadi Tim yang Jarang Ganti Pemain di Serie A. Musim 2025/26 Serie A baru berjalan 13 pekan, tapi AC Milan sudah jadi pembicaraan unik. Di bawah Massimiliano Allegri, Rossoneri tercatat sebagai tim yang paling jarang melakukan pergantian pemain—rata-rata 3,5 substitusi per laga dari total lima slot yang diizinkan. Dari 65 kemungkinan pergantian di 13 matchday, Milan hanya pakai 42, tertinggal jauh dari tim seperti Parma (52) atau pemimpin klasemen Roma (59). Strategi ini lahir dari skuad ramping hanya 19 pemain lapangan, tapi Allegri tak goyah. Ini jadi senjata rahasia atau bom waktu? INFO CASINO
Strategi Allegri: Skuad Kecil, Rotasi Minim: AC Milan Jadi Tim yang Jarang Ganti Pemain di Serie A
Allegri kembali ke Milan dengan visi jelas: bangun tim inti yang solid, bukan skuad lebar. Pengeluaran musim panas fokus pada kualitas, bukan kuantitas—total 200 juta euro untuk pemain seperti Luka Modric dan Strahinja Pavlovic, tapi tanpa tambahan cadangan masif. Hasilnya, Milan pakai formasi 3-5-2 yang kaku: starter seperti Fikayo Tomori, Pavlovic, dan Matteo Gabbia di belakang jarang berganti kecuali cedera atau kartu. Di tujuh laga terakhir, rata-rata substitusi turun jadi tiga per match, termasuk hanya dua saat derby lawan Inter. Allegri bilang, “Substitusi saat dibutuhkan, bukan asal ganti.” Ini ciptakan identitas kuat: tim paling sedikit kebobolan dari set-piece di liga (hanya empat gol), tapi juga bikin pemain utama capek—Ruben Loftus-Cheek main 90% menit, risiko burnout tinggi.
Statistik yang Menonjol di Serie A: AC Milan Jadi Tim yang Jarang Ganti Pemain di Serie A
Angka tak bohong: Milan satu-satunya tim dengan laga di mana hanya dua substitusi dipakai, dan tujuh match dengan maksimal tiga ganti. Bandingkan dengan Inter (58 substitusi) atau Napoli (59), yang rotasi bebas berkat skuad 25+ pemain. Di 13 laga, Milan punya win rate 62% saat pakai kurang dari empat substitusi, tapi drop jadi 40% di laga dengan rotasi lebih. Possession rata-rata 58% tetap tinggi, tapi xG (expected goals) cuma 1,6 per laga—terendah di top-6 klasemen. Cedera jadi musuh besar: Adrien Rabiot dan Christian Pulisic absen sebulan, bikin Allegri terpaksa pakai pemuda seperti Davide Bartesaghi. La Gazzetta dello Sport sebut gaya ini “mirip sepak bola 1980-an”—efektif tapi kuno di era lima ganti.
Dampak Positif dan Negatif
Keuntungan jelas: kohesi tim naik, pressing kolektif paling intens di Serie A (rata-rata 12 tekel sukses per laga). Pemain seperti Rafael Leao dan Alexis Saelemaekers beri dampak besar dari awal, dengan Leao cetak delapan gol dari start. Tapi sisi gelapnya: kelelahan kronis. Lima pemain kembali dari internasional “seperti mayat hidup,” kata Allegri, bikin rotasi sulit. Di laga lawan Bologna, Milan unggul 2-0 tapi kehilangan momentum babak kedua karena tak punya opsi segar. Rival seperti Juventus (rata-rata empat substitusi) manfaatkan ini untuk comeback. Januari nanti, transfer window jadi kunci—Corriere dello Sport prediksi Milan butuh minimal dua bek cadangan untuk hindari krisis.
Kesimpulan
AC Milan Allegri adalah tim paling “setia” pada starter-nya di Serie A musim ini, dengan substitusi minim yang ciptakan identitas tapi juga celah. Strategi ini kerja saat skuad fit, tapi cedera dan jadwal padat bisa jadi bumerang. Dengan posisi tiga klasemen—tiga poin di belakang Roma—Allegri punya buffer, tapi rotasi pintar harus datang cepat. Fans San Siro suka gaya ini: sederhana, tegas, seperti Milan era Sacchi. Tapi di liga kompetitif, jarang ganti bisa berubah jadi resep kekalahan. Milan harus adaptasi, atau risiko kehilangan momentum juara.

