Banyak Pemain MU Yang Bermasalah Dengan Ruben Amorim. Manchester United kembali menjadi sorotan di musim 2025/26, bukan karena prestasi di lapangan, melainkan karena gejolak internal di ruang ganti. Pelatih baru, Ruben Amorim, yang tiba dengan reputasi gemilang dari Sporting CP, kini menghadapi tantangan besar karena sejumlah pemain kunci dikabarkan berselisih dengannya. Nama-nama seperti Marcus Rashford, Alejandro Garnacho, Antony, dan bahkan Kobbie Mainoo disebut-sebut memiliki masalah dengan pendekatan keras Amorim. Dengan performa tim yang terpuruk di peringkat 13 Premier League, apa yang membuat hubungan pelatih dan pemain ini memanas? Siapa sebenarnya Ruben Amorim, dan bagaimana tanggapan para pemain terhadapnya? Mari kita ulas secara ringkas dan jelas! BERITA BOLA
Siapa Itu Ruben Amorim
Ruben Amorim adalah pelatih asal Portugal berusia 40 tahun yang resmi menangani Manchester United sejak November 2024, menggantikan Erik ten Hag yang dipecat setelah hasil buruk. Sebelumnya, Amorim meraih sukses besar di Sporting CP, memenangkan dua gelar Liga Portugal (2020/21 dan 2023/24) serta dua Piala Liga Portugal dengan gaya permainan 3-4-3 yang atraktif. Lahir di Lisbon pada 27 Januari 1985, Amorim adalah mantan gelandang yang bermain untuk Benfica dan timnas Portugal, dengan pengalaman di Piala Dunia 2010 dan 2014. Dikenal dengan pendekatan disiplin dan taktik progresif, ia membawa Sporting ke babak knock-out Liga Champions untuk pertama kalinya dalam 11 tahun. Kedatangannya ke Old Trafford diharapkan membawa energi baru, tetapi transisi ini ternyata tidak mulus, terutama karena gaya kepemimpinannya yang tegas dan tanpa kompromi.
Kenapa Banyak Pemain MU Yang Bermasalah Dengan Dia
Konflik antara Ruben Amorim dan sejumlah pemain Manchester United berakar dari pendekatan kepelatihannya yang ketat dan perubahan drastis dalam taktik tim. Amorim menerapkan formasi 3-4-3 yang menuntut intensitas tinggi, kedisiplinan taktis, dan adaptasi cepat, sesuatu yang sulit diterima oleh beberapa pemain senior. Marcus Rashford, misalnya, dikabarkan merasa tersinggung setelah Amorim secara terbuka mengkritik usaha dan komitmennya, terutama usai kekalahan 3-1 dari Brighton pada Januari 2025. Rashford, yang sempat dipinjamkan ke Aston Villa musim lalu, kini kembali ke daftar jual setelah gagal memenuhi ekspektasi Amorim.
Alejandro Garnacho juga mengalami ketegangan serius, dengan puncaknya terjadi setelah final Liga Europa 2024/25, di mana ia dicoret dari skuad utama karena dianggap kurang disiplin. Antony, yang kini dipinjamkan ke Real Betis, masuk dalam “bomb squad” Amorim karena performa inkonsisten dan ketidaksesuaian dengan sistem taktis pelatih. Bahkan Kobbie Mainoo, yang dianggap sebagai masa depan MU, dikabarkan mempertimbangkan hengkang setelah terus dicadangkan, dengan Amorim lebih memilih Manuel Ugarte di lini tengah. Pemain lain seperti Joshua Zirkzee dan Andre Onana juga menghadapi tekanan karena blunder dan ketidakcocokan dengan gaya bermain Amorim. Pendekatan pelatih Portugal ini, yang menekankan intensitas fisik dan pergerakan tanpa bola, dianggap terlalu berisiko oleh beberapa pemain, terutama setelah serangkaian kekalahan memalukan seperti 0-1 dari Arsenal dan 0-3 dari Bournemouth.
Apa Tanggapan Para Pemain MU Atas Ruben Amorim
Tanggapan para pemain terhadap Ruben Amorim sangat bervariasi, mencerminkan polarisasi di ruang ganti. Beberapa pemain muda seperti Harry Amass, Chido Obi, dan Tyler Fredricson justru memuji Amorim karena memberi mereka debut di tim utama. Amass, misalnya, debut melawan Leicester City pada Maret 2025 dan menyebut Amorim sebagai pelatih yang komunikatif dan mendukung perkembangan pemain muda. Namun, pemain senior seperti Rashford dan Garnacho dilaporkan frustrasi dengan gaya kepemimpinan Amorim yang dianggap terlalu keras. Setelah kekalahan dari Brighton, Amorim dikabarkan mengamuk di ruang ganti, membalik meja dan menendang kursi, membuat beberapa pemain terdiam dan bahkan menangis karena tekanan.
Bruno Fernandes, kapten tim, awalnya mendukung Amorim, tetapi performanya yang menurun membuatnya dikritik, dan ia kini berada di bawah tekanan untuk membuktikan diri. Diogo Dalot, yang dianggap cocok dengan sistem wing-back Amorim, tetap optimistis meski menyebut musim ini sebagai “bencana.” Sementara itu, Antony secara terbuka menyatakan keinginannya untuk tetap di Real Betis, menunjukkan ketidakpuasan dengan situasi di MU. Secara keseluruhan, ruang ganti MU terpecah antara pemain muda yang melihat peluang di bawah Amorim dan pemain senior yang merasa terpinggirkan oleh pendekatan taktis dan disiplinnya yang ketat.
Kesimpulan
Gejolak di Manchester United di bawah Ruben Amorim menunjukkan tantangan besar dalam mengelola skuad penuh talenta namun terpecah. Dengan pendekatan disiplin dan taktik 3-4-3 yang menuntut adaptasi tinggi, Amorim telah menciptakan friksi dengan pemain bintang seperti Rashford, Garnacho, Antony, dan Mainoo, yang merasa sulit menyesuaikan diri. Meski mendapat dukungan dari pemain muda dan beberapa senior seperti Dalot, ketegangan di ruang ganti dan hasil buruk di lapangan—hanya 6 kemenangan dari 26 laga Premier League—meningkatkan tekanan pada pelatih Portugal ini. Amorim tetap bersikeras pada visinya, tetapi tanpa dukungan penuh dari skuad dan hasil positif, masa depannya di Old Trafford bisa terancam. Akankah ia mampu menyatukan tim dan mengembalikan kejayaan MU, atau justru memperdalam krisis? Saga ini pasti akan terus jadi perbincangan panas!