Napoli Dinilai Sudah Kehilangan Ketajamannya. Napoli yang pernah menjadi raksasa menakutkan di Serie A kini tampak kehilangan taringnya. Musim 2025/26 menjadi bukti nyata penurunan performa tim asuhan Antonio Conte. Setelah meraih gelar juara liga pada 2022/23 dan finis runner-up di musim berikutnya, Napoli kini terjebak di posisi keenam klasemen dengan catatan yang jauh dari harapan. Serangan yang dulu mematikan kini mandul, pertahanan sering kebobolan di momen krusial, dan performa inkonsisten membuat banyak pengamat sepakat: Napoli sudah kehilangan ketajamannya. Meski Conte dikenal sebagai pelatih yang bisa membangun tim tangguh, transisi musim ini menunjukkan ada masalah struktural yang belum teratasi. INFO GAME
Penurunan Produktivitas Serangan yang Nyata: Napoli Dinilai Sudah Kehilangan Ketajamannya
Salah satu penyebab utama penilaian ini adalah penurunan drastis jumlah gol. Napoli hanya mencetak 28 gol dalam 20 pertandingan liga hingga pertengahan Januari 2026, angka yang jauh di bawah rata-rata musim juara mereka. Viktor Osimhen, yang dulu menjadi mesin gol, kini lebih sering absen karena cedera dan penurunan performa. Romelu Lukaku, yang didatangkan untuk mengisi kekosongan, belum sepenuhnya beradaptasi dengan gaya Conte dan hanya menyumbang enam gol. Pemain sayap seperti Khvicha Kvaratskhelia dan Matteo Politano juga terlihat kehilangan kecepatan serta ketajaman dalam pengambilan keputusan akhir. Serangan Napoli kini terlalu bergantung pada bola mati dan tembakan jarak jauh, sementara kreasi peluang terbuka menurun signifikan. Data menunjukkan rata-rata peluang bersih per laga turun dari 2,1 menjadi 1,3, menandakan hilangnya fluiditas serangan yang pernah menjadi ciri khas tim.
Masalah di Lini Tengah dan Kurangnya Kreativitas: Napoli Dinilai Sudah Kehilangan Ketajamannya
Lini tengah menjadi titik lemah lain yang sering dibahas. Setelah kepergian Stanislav Lobotka yang pindah ke klub lain di musim panas lalu, Napoli kesulitan menemukan pengatur tempo yang sepadan. Frank Anguissa dan Billy Gilmour lebih kuat dalam duel fisik, tapi kurang akurat dalam passing progresif. Akibatnya, transisi dari bertahan ke menyerang sering terputus di tengah lapangan. Conte mencoba berbagai kombinasi, termasuk memainkan Scott McTominay sebagai box-to-box, tapi belum ada chemistry yang solid. Kreativitas yang dulu datang dari Piotr Zielinski kini hilang, dan penggantinya belum mampu mengisi peran serupa. Akibatnya, tim sering terjebak dalam penguasaan bola steril tanpa ancaman nyata, terutama saat menghadapi tim yang bertahan dalam.
Dampak Jadwal Padat dan Cedera Beruntun
Jadwal padat di musim ini turut memperparah situasi. Napoli harus bermain di Liga Champions, Coppa Italia, dan Serie A dengan rotasi minim karena banyak pemain kunci mengalami cedera berulang. Osimhen absen hampir dua bulan, Kvaratskhelia sempat cedera hamstring, dan beberapa bek utama juga bergantian keluar. Conte dikenal suka memainkan pemain inti secara terus-menerus, tapi pendekatan itu justru membuat kelelahan fisik dan penurunan fokus di akhir laga. Kekalahan tipis di menit-menit akhir menjadi pola yang sering terulang, seperti saat kalah dari Inter Milan dan Juventus dengan skor 1-0 atau 2-1. Mental tim tampak rapuh ketika tertinggal, sesuatu yang jarang terlihat pada Napoli era Scudetto.
Kesimpulan
Napoli memang masih memiliki skuad berkualitas tinggi dan pelatih berpengalaman, tapi ketajaman yang dulu menjadi senjata utama mereka telah lenyap musim ini. Penurunan produktivitas serangan, kurangnya kreativitas di lini tengah, serta dampak cedera dan jadwal padat menjadi faktor utama di balik performa mengecewakan. Conte punya waktu hingga akhir musim untuk membalikkan keadaan, tapi perbaikan besar diperlukan, baik dalam hal rotasi pemain maupun penyesuaian taktik. Bagi suporter, musim ini terasa seperti kemunduran setelah beberapa tahun penuh harapan. Jika tidak segera ditemukan solusi, Napoli berisiko kehilangan posisi di papan atas dan gagal lolos ke kompetisi Eropa musim depan. Saat ini, yang tersisa hanyalah harapan bahwa tim bisa menemukan kembali ketajaman yang pernah membuat mereka ditakuti di Italia dan Eropa.
